GUz9GfGlGpCiGUz7TfAlTpz7Td==

Toto Schillaci: Legenda Italia 1990 yang Hanya Bersinar Tiga Minggu, Namun Abadi dalam Sejarah Piala Dunia

Legenda Timnas Italia, Salvatore "Toto" Schillaci. (Foto: BBC)

BANYUWANGITERKINI.IDSepak bola selalu menghadirkan kisah-kisah luar biasa yang sulit dipercaya. Dari pemain yang bangkit dari keterpurukan hingga legenda yang mendominasi selama bertahun-tahun, olahraga ini tidak pernah kehabisan cerita inspiratif. Namun di antara semua dongeng yang pernah lahir di lapangan hijau, kisah Salvatore "Toto" Schillaci mungkin menjadi salah satu yang paling unik.

Schillaci bukanlah pemain yang sejak muda diprediksi menjadi superstar. Ia bukan pula bintang yang menguasai panggung sepak bola Eropa selama satu dekade. Sebaliknya, pria asal Sisilia itu hanya menikmati masa kejayaan selama beberapa minggu. Meski begitu, tiga minggu tersebut cukup untuk mengukir namanya dalam sejarah sepak bola dunia.

"Jika dipikir-pikir, karier internasional saya hanya berlangsung selama tiga minggu," ujar Schillaci suatu ketika, mengenang perjalanan luar biasanya bersama tim nasional Italia.

Kalimat tersebut merangkum secara sempurna perjalanan karier seorang pemain yang datang dari ketidakjelasan, mencapai puncak dunia dalam waktu singkat, lalu perlahan menghilang dari sorotan.

Perjalanan Panjang dari Kasta Bawah Italia

Jauh sebelum menjadi pahlawan Italia di Piala Dunia 1990, Schillaci menjalani perjalanan yang penuh perjuangan.

Dari 1982 hingga 1989, ia bermain untuk klub Sisilia, Messina, yang berkutat di Serie C dan Serie B. Selama tujuh tahun, namanya nyaris tidak pernah muncul dalam pemberitaan sepak bola nasional Italia.

Di tengah kerasnya kompetisi kasta bawah, Schillaci terus bekerja keras membangun reputasinya. Meski tidak langsung tampil mencolok, ketajamannya perlahan berkembang dari musim ke musim.

Puncaknya terjadi pada musim 1988-89 ketika ia sukses menjadi top skor Serie B dengan torehan 23 gol bersama Messina. Penampilan impresif tersebut menarik perhatian Juventus yang saat itu tengah mencari penyerang haus gol. Transfer ke Juventus pada musim panas 1989 menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya.

Musim Ajaib Bersama Juventus

Banyak pemain mengalami kesulitan ketika harus beradaptasi dengan klub sebesar Juventus. Namun Schillaci justru tampil luar biasa pada musim debutnya.

Pada musim Serie A 1989-90, ia mencetak 15 gol di liga dan mengoleksi total 21 gol di seluruh kompetisi. Ketajamannya membantu Juventus bersaing di level tertinggi sekaligus membuat pelatih Italia, Azeglio Vicini, memasukkan namanya ke skuad Piala Dunia 1990. Meski demikian, Schillaci sebenarnya bukan pilihan utama Gli Azzurri.

Sebelum turnamen dimulai, ia baru sekali tampil membela Italia. Kehadiran nama-nama besar seperti Gianluca Vialli serta Andrea Carnevale membuat Schillaci diperkirakan hanya akan menjadi pelapis. Tak ada yang menyangka bahwa turnamen tersebut akan mengubah hidupnya selamanya.

Gol ke Gawang Austria yang Mengubah Segalanya

Piala Dunia 1990 berlangsung di Italia dengan ekspektasi besar dari publik tuan rumah. Pada pertandingan pembuka menghadapi Austria, Italia kesulitan mencetak gol. Dalam situasi tersebut, Vicini memasukkan Schillaci dari bangku cadangan.

Hanya empat menit setelah masuk, Schillaci mencetak gol kemenangan melalui sundulan kepala. Gol itu menjadi awal dari salah satu kisah paling fenomenal dalam sejarah Piala Dunia.

"Setelah gol ke gawang Austria itu, rasanya seperti saya berada dalam keadaan trance. Apa pun yang saya sentuh berubah menjadi gol. Itu adalah tiga minggu yang diberikan Tuhan," kenangnya dalam sebuah wawancara bertahun-tahun kemudian. Sejak saat itu, Schillaci tak terbendung.

Menjadi Raja Piala Dunia 1990

Setelah mencetak gol ke gawang Austria, Schillaci terus menunjukkan ketajamannya sepanjang turnamen. Ia mencetak gol kemenangan saat menghadapi Irlandia di perempat final. Ia kembali mencatatkan namanya di papan skor ketika Italia berhadapan dengan Argentina pada semifinal.

Meski Italia gagal melaju ke final setelah kalah melalui adu penalti dari Argentina yang diperkuat Diego Maradona, Schillaci masih menambah koleksi golnya pada laga perebutan tempat ketiga melawan Inggris.

Saat turnamen berakhir, ia menjadi top skor dengan enam gol. Prestasi tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Sepatu Emas sekaligus Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen.

Tatapan matanya yang tajam dan penuh emosi saat merayakan gol menjadi salah satu ikon paling dikenang dari Italia 1990.

Dalam hitungan minggu, Schillaci berubah dari pemain yang nyaris tidak dikenal menjadi salah satu pesepak bola paling terkenal di dunia.

Mengapa Karier Schillaci Cepat Meredup?

Banyak orang mengira Piala Dunia 1990 menjadi awal lahirnya superstar baru sepak bola dunia. Namun kenyataannya berbeda. Setelah turnamen berakhir, performa Schillaci perlahan menurun. 

Bersama tim nasional Italia, ia hanya memainkan delapan pertandingan tambahan dan mencetak satu gol lagi. Pada 1991, pintu tim nasional praktis tertutup baginya.

Karier internasionalnya berakhir dengan catatan 16 penampilan dan tujuh gol. Menariknya, enam dari tujuh gol tersebut tercipta hanya dalam tiga minggu selama Piala Dunia 1990.

Di level klub, statistiknya juga menunjukkan penurunan yang signifikan. Setelah mencetak 15 gol pada musim debut bersama Juventus, Schillaci tidak pernah lagi menembus dua digit gol dalam satu musim Serie A.

Dua musim berikutnya bersama Juventus hanya menghasilkan lima dan enam gol liga. Saat bergabung dengan Inter Milan, performanya juga tidak banyak berubah. Banyak faktor yang diyakini menjadi penyebab kemerosotan tersebut.

Sebelum Piala Dunia, Schillaci merupakan pemain yang belum banyak dikenal sehingga sulit dipelajari lawan. Setelah Italia 1990, para bek Serie A telah memahami karakter permainannya secara detail.

Selain itu, cedera otot dan lutut mulai mengganggu performanya. Kecepatan eksplosif yang menjadi senjata utama perlahan menghilang.

Tekanan psikologis akibat ketenaran mendadak juga menjadi tantangan tersendiri. Ekspektasi publik yang begitu tinggi membuat Schillaci sulit mengulangi performa magisnya. Di Juventus, kehadiran bintang besar seperti Roberto Baggio turut membuat posisinya semakin sulit.

Menemukan Kehidupan Baru di Jepang

Ketika kariernya di Italia mulai meredup, Schillaci mengambil keputusan besar dengan hijrah ke Jepang. Ia bergabung dengan Jubilo Iwata yang saat itu berkompetisi di J.League.

Menariknya, Jepang menjadi tempat di mana ia kembali menemukan sentuhan terbaiknya. Selama memperkuat Jubilo Iwata, Schillaci berhasil mencetak 56 gol sebelum akhirnya pensiun pada 1997.

Meski tidak lagi menjadi pusat perhatian sepak bola dunia, periode tersebut memberikan penutup yang layak bagi karier profesionalnya.

Warisan Abadi Sang Fenomena Tiga Minggu

Dunia sepak bola mengenal banyak pemain hebat yang mendominasi selama bertahun-tahun. Namun hanya sedikit yang mampu menciptakan dampak sebesar Schillaci dalam waktu sesingkat itu.

Pada September 2024, Schillaci meninggal dunia pada usia 59 tahun. Kepergiannya kembali membangkitkan kenangan tentang musim panas Italia 1990, ketika seorang penyerang yang nyaris tidak dikenal berhasil memikat seluruh dunia.

Tiga minggu mungkin terdengar terlalu singkat untuk membangun sebuah legenda. Namun bagi Toto Schillaci, tiga minggu tersebut cukup untuk mengubah hidupnya selamanya dan memastikan namanya tetap hidup dalam sejarah sepak bola.

Ia datang tanpa banyak ekspektasi, menaklukkan panggung terbesar sepak bola dunia, lalu menghilang hampir secepat kemunculannya. Meski singkat, kisahnya tetap menjadi salah satu dongeng paling indah yang pernah lahir di Piala Dunia.***

toto

Ketik kata kunci lalu Enter