GUz9GfGlGpCiGUz7TfAlTpz7Td==

Kenapa Bulan Muharram Disebut Lebaran Anak Yatim? Ini Penjelasan dan Keutamaannya

Kenapa Bulan Muharram Disebut Lebaran Anak Yatim? Ini Penjelasan dan Keutamaannya-banyuwangiterkini.id
Pejelasan bulan Muharram yang juga disebut sebagai lebaran anak yatim. (Foto: Baznas)

BANYUWANGITERKINI.ID - Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di Indonesia, masyarakat muslim kerap menyebut 10 Muharram atau Hari Asyura sebagai Lebaran Anak Yatim. Istilah ini sudah lama dikenal dan identik dengan kegiatan santunan, berbagi kebahagiaan, serta perhatian kepada anak-anak yatim.

Lantas, mengapa Bulan Muharram disebut Lebaran Anak Yatim? Berikut penjelasan lengkapnya.

Asal-Usul Sebutan Lebaran Anak Yatim

Penyebutan Lebaran Anak Yatim berangkat dari tradisi umat Islam yang menjadikan bulan Muharram, khususnya tanggal 10 Muharram, sebagai momentum untuk memperbanyak amal kebaikan, termasuk menyantuni anak yatim.

Meski istilah "Lebaran Anak Yatim" tidak disebutkan secara khusus dalam Al-Qur'an maupun hadis, tradisi tersebut berkembang karena adanya banyak anjuran dalam Islam untuk memuliakan dan memperhatikan kehidupan anak yatim.

Melalui kegiatan santunan dan berbagi rezeki, umat Islam berupaya menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim pada hari yang memiliki banyak keutamaan tersebut.

Anjuran Menyantuni Anak Yatim dalam Al-Qur'an

Islam memberikan perhatian besar terhadap kesejahteraan anak yatim. Salah satu dalil yang sering dijadikan rujukan terdapat dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 220 yang menjelaskan pentingnya memperbaiki keadaan dan menjaga hak-hak anak yatim.

Ayat tersebut menegaskan bahwa merawat, mendidik, dan memperhatikan kehidupan anak yatim merupakan perbuatan yang baik di sisi Allah SWT. Umat Islam juga diperintahkan untuk tidak menelantarkan mereka serta memastikan kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan layak.

Menurut penjelasan Imam At-Thabari dalam kitab Tafsir At-Thabari, ayat tersebut turun sebagai jawaban atas pertanyaan kaum muslimin yang hidup bersama anak-anak yatim dan mencampurkan harta mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya Menjaga Kesejahteraan Anak Yatim

Dalam ajaran Islam, perhatian terhadap anak yatim tidak hanya berupa bantuan materi. Yang lebih utama adalah memastikan mereka mendapatkan pengasuhan, pendidikan, perlindungan, serta kehidupan yang layak.

Karena itu, menyantuni anak yatim bukan sekadar memberikan sedekah sesaat, melainkan bentuk kepedulian sosial yang bertujuan menjaga masa depan dan kesejahteraan mereka.

Nilai inilah yang menjadikan momentum Muharram sering dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian terhadap anak-anak yatim.

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim

Selain menjadi amalan yang dianjurkan, menyayangi dan merawat anak yatim juga memiliki keutamaan besar.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad SAW, Rasulullah bersabda:

"Aku dan orang yang merawat anak yatim seperti ini di surga."

Kemudian Rasulullah mengisyaratkan kedekatan tersebut dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadis tersebut menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang yang memelihara, menyayangi, dan membantu kehidupan anak yatim. Mereka dijanjikan kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga sebagai balasan atas kepedulian yang diberikan.

Muharram Menjadi Momentum Berbagi dan Peduli

Bulan Muharram tidak hanya dikenal sebagai awal tahun baru Hijriah, tetapi juga menjadi momen untuk meningkatkan amal ibadah dan kepedulian sosial.

Karena itu, banyak masjid, lembaga sosial, dan komunitas muslim yang mengadakan santunan anak yatim, pemberian bantuan pendidikan, hingga kegiatan berbagi lainnya pada bulan ini.

Tradisi tersebut menjadi bentuk nyata implementasi ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk membantu sesama, khususnya mereka yang membutuhkan perhatian lebih.

Kesimpulan

Bulan Muharram disebut Lebaran Anak Yatim karena pada bulan ini, khususnya tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura, umat Islam banyak melakukan kegiatan santunan dan berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yatim. Tradisi tersebut berakar dari ajaran Islam yang sangat menekankan pentingnya memelihara, menyayangi, dan memperhatikan kesejahteraan anak yatim.

Selain menjadi wujud kepedulian sosial, menyantuni anak yatim juga memiliki keutamaan besar karena Rasulullah SAW menjanjikan kedudukan mulia bagi mereka yang merawat dan membantu kehidupan anak yatim dengan penuh kasih sayang.***

Nyonya4d

Ketik kata kunci lalu Enter