GUz9GfGlGpCiGUz7TfAlTpz7Td==

Osing, Gandrung, dan Identitas Budaya Banyuwangi: Warisan Blambangan yang Tetap Hidup

Suku Osing di Kabupaten Banyuwangi. (Foto: Istimewa)

BANYUWANGITERKINI.ID Banyuwangi tidak hanya dikenal sebagai daerah dengan bentang alam yang memikat, tetapi juga sebagai wilayah yang memiliki identitas budaya yang kuat. Dua unsur yang tak dapat dipisahkan dari citra Banyuwangi adalah Suku Osing dan Tari Gandrung. Keduanya bukan sekadar simbol budaya, melainkan bagian dari perjalanan sejarah panjang masyarakat Blambangan dalam mempertahankan jati diri mereka.

Di balik kemeriahan Festival Gandrung Sewu maupun berbagai pertunjukan budaya yang digelar setiap tahun, tersimpan kisah tentang perjuangan, migrasi penduduk, hingga upaya membangun kembali semangat masyarakat setelah melewati masa-masa penuh konflik.

Suku Osing, Pewaris Peradaban Blambangan

Masyarakat Osing dikenal sebagai penduduk asli Banyuwangi. Dalam kajian akademik, mereka kerap dikategorikan sebagai kelompok sub-Jawa yang memiliki bahasa, adat, dan tradisi yang berkembang secara khas di wilayah paling timur Pulau Jawa.

Istilah "Osing" sendiri berasal dari bahasa Osing yang berarti "tidak". Menurut berbagai penuturan yang berkembang di masyarakat, jawaban tersebut kerap diucapkan ketika mereka ditanya apakah berasal dari Jawa atau Bali. Kata "osing" kemudian menjadi penanda identitas bahwa mereka bukan bagian dari keduanya, melainkan memiliki akar budaya sendiri.

Terbentuknya masyarakat Osing tidak dapat dilepaskan dari runtuhnya Kerajaan Majapahit dan perjalanan Kerajaan Blambangan. Ketika Majapahit mengalami kemunduran, Blambangan berkembang sebagai kerajaan yang berdiri sendiri. Namun selama lebih dari dua abad, kerajaan tersebut terus menghadapi ekspedisi militer dari berbagai kekuatan politik di sekitarnya.

Situasi itu memicu perpindahan penduduk ke berbagai wilayah. Sebagian masyarakat menetap di lereng Gunung Bromo yang kemudian berkembang menjadi masyarakat Tengger, sebagian lagi bermigrasi ke Bali, sementara kelompok yang bertahan di wilayah Blambangan berkembang menjadi masyarakat Osing yang kini menjadi identitas Banyuwangi.

Tetap Bertahan di Tengah Keberagaman

Seiring perjalanan waktu, Banyuwangi menjadi daerah tujuan berbagai kelompok masyarakat. Etnis Jawa, Madura, Bugis, dan sejumlah komunitas lain ikut membentuk kehidupan sosial di wilayah tersebut.

Meski demikian, masyarakat Osing tetap dipandang sebagai penduduk asli Banyuwangi. Hingga kini, budaya Osing masih terjaga di sejumlah kecamatan seperti Glagah, Giri, Kabat, Rogojampi, Songgon, Singojuruh, Cluring, dan Genteng.

Bahasa Osing masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sementara tradisi, upacara adat, musik, hingga kuliner terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyuwangi.

Tari Gandrung, Simbol Kebangkitan Masyarakat Banyuwangi

Jika berbicara tentang Banyuwangi, Tari Gandrung menjadi salah satu ikon budaya yang paling dikenal. Namun, di balik gerakan tari yang anggun dan kostum yang penuh warna, terdapat sejarah yang erat kaitannya dengan perjuangan masyarakat Blambangan.

Menurut berbagai penuturan yang kemudian dituangkan dalam artikel Gandroeng Van Banyuwangi karya John Scholte pada 1926, Tari Gandrung lahir setelah Perang Puputan Bayu tahun 1771, ketika masyarakat Blambangan tercerai-berai akibat peperangan melawan VOC.

Dalam kondisi tersebut, pertunjukan Gandrung menjadi salah satu media yang digunakan untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat sekaligus mempererat hubungan antarwarga yang tersebar di berbagai wilayah.

Karena itu, Gandrung tidak hanya dipahami sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan harapan bagi masyarakat Blambangan pada masa itu.

Marsan, Penari Gandrung Pertama yang Menyatukan Warga

Berbeda dengan pertunjukan Gandrung saat ini yang identik dengan penari perempuan, kisah awal kesenian tersebut justru diawali oleh seorang penari laki-laki bernama Marsan.

Dalam catatan John Scholte, Marsan berkeliling dari desa ke desa bersama para pemusik yang memainkan kendang dan terbang. Mereka menghibur masyarakat melalui pertunjukan tari dan musik sederhana.

Sebagai bentuk apresiasi, warga memberikan beras maupun bahan pangan lainnya. Namun pertunjukan tersebut memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mencari nafkah.

Bantuan yang diterima Marsan kemudian dibagikan kembali kepada kelompok-kelompok masyarakat yang masih hidup dalam pengungsian akibat peperangan. Selain mendistribusikan bantuan, rombongan tersebut juga menjadi penghubung informasi antarkampung sehingga membantu memperkuat solidaritas masyarakat Blambangan yang tercerai-berai.

Dengan demikian, Gandrung pada masa awal berkembang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga menjadi sarana konsolidasi sosial setelah perang.

Perubahan Seiring Perkembangan Zaman

Dalam perkembangannya, Tari Gandrung mengalami perubahan. Penari laki-laki secara perlahan digantikan oleh perempuan, seiring berkembangnya proses islamisasi di Banyuwangi yang tidak lagi memperkenankan praktik transvestisme dalam pertunjukan.

Perubahan tersebut tidak menghilangkan makna Gandrung sebagai simbol budaya masyarakat Banyuwangi. Justru sebaliknya, kesenian ini terus berkembang mengikuti perubahan sosial tanpa meninggalkan akar sejarahnya.

Kini Tari Gandrung tampil dalam berbagai acara adat, penyambutan tamu, festival budaya, hingga promosi pariwisata. Penampilan para penari Gandrung bahkan telah menjadi salah satu ikon yang langsung dikenali wisatawan ketika berkunjung ke Banyuwangi.

Warisan Budaya yang Terus Dijaga

Perjalanan panjang masyarakat Osing dan lahirnya Tari Gandrung menunjukkan bahwa identitas budaya Banyuwangi dibangun melalui proses sejarah yang tidak sederhana. Dari masa peperangan, perpindahan penduduk, hingga upaya membangun kembali kehidupan sosial, masyarakat Banyuwangi berhasil melahirkan warisan budaya yang tetap bertahan hingga kini.

Di tengah perkembangan zaman dan pesatnya industri pariwisata, budaya Osing dan Tari Gandrung terus menjadi penanda jati diri Banyuwangi. Keduanya tidak hanya dikenalkan sebagai atraksi budaya, tetapi juga sebagai pengingat bahwa identitas sebuah daerah lahir dari keteguhan masyarakatnya dalam menjaga sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.***

Ketik kata kunci lalu Enter